Surau Khairiah Kg Tengah Gombak

Memupuk silaturrahim antara anak kariah..

BERBAGAI MACAM AMALAN YANG DISYARI’ATKAN BERMULA 1 DZULHIJJAH

Posted by suraukhairiahkgtengah on October 25, 2011

1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Amal ini adalah yang paling utama, berlandaskan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain; sabda Rasulullah s: “Dari umrah ke umrah adalah pelebur (dosa-dosa) antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.”

2. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits qudsi :

“Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya demi untuk-Ku.”

Diriwayatkan dari Abu Said A1-Khudhri d, bahwa Rasulullah s bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka se1ama tujuh puluh tahun.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Qatadah d bahwa Rasulullah s bersabda: “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah, melebur berbagai macam dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3. Takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

(وَيَذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ فيِ أيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ)  

“.. dan supaya mereka menyebut namu Allah pada hari-hari yang telah ditentukan”. (Surah Al-Hajj : 28).

Para ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut dengan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, hal itu berdasarkan hadits dari Ibnu Umar d: “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid ”.

(HR. Imam Ahmad).

Imam Al-Bukhari, menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah, keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut dengan mengumandangkan takbir, kemudian orang-orang pun mengikuti takbirnya.

Dan Ishaq, v, meriwayatkan dari fuqaha’ tabi’in bahwa pada hari-hari ini mengucapkan:

(اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَلله أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ)

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain­-lainnya, sebagaimana firman Allah:

( وَلِتُكَبِّرُوْا الله َعَلَى مَا هَدَاكُمْ)

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …” (A1-Baqarah: 185).

Tidak diperbolehkan mengumandangkan takbir secara bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara bersama-sama (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para salaf. Adapun yang menurut sunnah, adalah masing-masing bertakbir dengan sendirinya. Dan hal seperti ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali jika karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti: takbir, tahmid, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyari’atkan.

4. Taubat serta meninggalkan segala maksiat dan dosa, sehingga akan mendapat ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkannya seorang hamba dan terusirnya dia dari Allah, sedangkan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah d, hahwa Rasulullah s bersabda:

(إنَّ اللهَ يََغَارُ, وَغِيْرَةُ اللهِ أنْ يِأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ)

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu terjadi manakala seorang hamba mendatangi apa yang diharamkan Allah terhadapnya.

(Hadits Muttafaq ‘Alaihi).

5. Banyak beramal shalih, berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca A1-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah yang dilakukan pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyariatkan pada hari-hari itu takbir muthlaq, yaitu pada setiap saat, siang atau pun malam sampai shalat Ied. Dan disyari`atkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat ashar pada akhir haritasyriq.

7.  Berkurban pada hari raya Qurban dan hari-hari tasyriqHal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim a yakni ketika Allah menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan hahwa Rasulullah s berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh biri-biri itu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

8.  Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan periwayat lainnya, dari Ummu Salamah RA hahwa Nabi s bersabda:

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” Dalam riwayat lain dituturkan: “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban.”

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang baru menunaikan ibadah haji yang sedang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah :

(وَلاَ تَحْلِقُوْا رُؤُوْسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه)

“. . dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat  penyembelihannya.”   (Al-Baqarah: 196).

Larangan ini, menurut zhahirnya hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk isteri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9. Melaksanakan shalat `Idul Adha dan mendengarkan khutbahnya. Setiap muslim hendaknya tahu akan hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti: nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari.

10. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah selalu melimpahkan taufik dan ‘inayah-Nya serta menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad s, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya. Amiin.

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al Jibrin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: